Kelana Bentala #2 (Lampung)
Kalau bukan karena ketentraman perjalanan, sudah kupecahkan bibirnya dengan genggaman tinju yang sudah kutahan sedari tadi “ucapku dalam hati” Waktu menunjukkan pukul empat subuh, bus berhenti pada satu tempat persinggahan, mirip dengan warung remang-remang khas pinggir jalan. Katanya sang supir mengantuk sementara tak ada supir cadangan, jadilah kami berhenti menunggu sang supir merebahkan lelah sejenak. Kembali kupesan kopi hitam yang diantarkan oleh seorang perempuan yang kira-kira usianya baru masuk angka dua puluh, pakaiannya tak lazim digunakan di waktu malam, amat terbuka. Tapi tak kuhiraukan, hanya fokus pada kopi hitam yang mengeluarkan hawa panas. Di seberang sana kulihat sepasang muda-muda tengah memadu kasih di situasi yang remang, di dekatku dua orang laki-laki tua sedang fokus memainkan catur sembari berbicara tentang politik negeri ini. Entah mengapa bahasan tentang politik seolah menjadi hal menarik bagi orang-orang seusia mereka. “Kalau saja freeport itu kita yang meng...