ILYA
Senang mengenalmu, senang karena akhirnya kau memutuskan untuk mau mengenal aku.
Senang karena akhirnya rasa sabar ini berbuah tatapan teduh dari dua bola matamu.
Aku tenggelam disana, sejak pertama kali kau izinkan untuk menerima kehadiran ini baik-baik, aku menyukai segala apa yang ada di dalam dirimu, lucu, manis dan pekerja keras ; tentunya teduh. Semua ; mulai dari apa yang bisa kusampaikan sampai beberapa hal yang cukup dipendam dalam diam.
Aku terpukau dengan keajaiban tuhan, akhirnya takdir kita berada di satu warna yang sama. Awal-awal aku sadari diri ini serakah sekali untuk lekas memeluk hidupmu tanpa menunggu terlebih dahulu.
Pertama kali melihat tanganmu, aku tahu bahwa ibu jariku dan anak-anaknya akan terasa pas disana. Pertama kali melihat caramu merespon keluh kesahku, aku tahu bahwa kamu adalah sebaik-baiknya tempat untuk bertukar cerita.
Mulanya, aku kira petualangan ini akan berakhir dengan ujung yang tidak menemui tujuan. Hampir saja aku menjadi Abdur Arsyad kedua, ketiga atau bahkan ke ribuan lainnya. Aku tak pernah menduga bahwa jalan yang kupikir sulit ini menemui banyak kemudahan.
Berawal dari niatan mengucapkan terima kasih, kini kabarmu adalah sesuatu yang paling kunanti-nanti. Aku tak ingin terlihat seperti buaya yang menemukan mangsa, tapi kamu terlalu sempurna untuk kudiamkan begitu saja.
Heiy, jangan tersenyum, nanti aku semakin gila Weiy.
Kalau memang kita adalah dua potong teka-teki yang perlu disatukan, semoga kaki-kaki kita akan selalu diberi jalan untuk menemukan. Kalau kita hanya bertemu untuk sebuah selamat tinggal, bantu aku berdoa lebih keras agar persandingan kita tak bisa disangkal.
Berakhir dimanapun dan seperti apapun kita nanti, kau pasti mengerti bahwa aku bersyukur kita kini saling melengkapi.
Komentar
Posting Komentar