Kelana Bentala #1 (Menuju Lampung)

Matahari mulai beranjak naik, kususun barang-barang ke dalam ransel yang kelak akan kubawa menuju perjalanan yang tak tahu dimana ujungnya. Kasur, meja kerja beserta perintilan di dalam kamar kuatur rapi, sembari meninggalkan sepucuk surat yang berisi pesan,  kata sandi atm dan dokumen penting lainnya, berjaga-jaga kalau nanti aku tidak bisa pulang kembali ke kamar yang nyaman ini.

Sebelum keluar kamar, kuamati sebuah foto yang masih rapi terpajang, tergambar sosok beberapa orang kawan yang tumbuh bersamaku sedari kecil, yang banyak mengisi hari-hari senang ketimbang sedinya, karena memang kata beberapa orang laki-laki tak pantas untuk bersedih. Saat itu usia kami kurang lebih enam belas tahun, anak muda yang tengah merasa gagah-gagahnya, kalau dibanding sekarang rasanya jauh ketinggalan. Mungkin karena zamannya sudah berbeda.

Akhirnya, kututup pintu kamar dengan merapal doa. Berharap pintu ini bisa kubuka lagi di lain waktu, Di ruang tamu, ibu sedang mengemas beberapa perbekalan yang kelak akan kubawa berjalan.

“Dan, jangan lupa bawa ini ya, untuk bekal di jalan, biar nanti kalau rindu sama ibu bisa merasakan nya lewat makanan”

“Terima kasih Bu, nanti aku bawa”

“Ini ransel nya ga ada yang lebih ringan lagi? Berat sekali” ucap ibu yang mencoba untuk mengangkat ransel 60 L berwarna hitam itu, ditambah sebuah daypack dengan warna senada.

“Tenang Bu, aku kuat kok” Sembari memamerkan lengan yang kurus itu.

“Piti lai ado, nak ? Lai cukuik untuk di jalan”

“Lai Ma, beko kok kurang kawan wak lai banyak, nan paralu bisa makan Ma”

Ibu melempar senyum, percaya anak laki-laki tertua nya akan bisa menjaga diri dengan baik.

Aku memeluknya erat, kucium kening seraya meyakinkan bahwa anak laki-laki tertua nya ini akan baik-baik saja selama perjalanan.

Setelahnya kudatangi ayah yang tengah fokus menghafalkan naskah khutbah jumat untuk besok. Tak banyak kata yang keluar, beliau hanya berpesan, “Kalau memang tekadnya sudah bulat, pasti jalannya dipermudah. Hati-hati di jalan”. Walau terlihat cuek, kata Ibu, ayah adalah orang yang paling khawatir ketika mendengar anak laki-lakinya akan pergi menyusuri negeri.

Lucu, padahal ayah adalah orang yang tumbuh dengan kemandirian, sedari umur belasan tahun sudah pergi merantau meninggalkan kampung halaman yang dicintainya, hanya untuk satu hal : kepastian hidup. Ibu pun tak jauh berbeda, belum genap dua belas tahun, ia sudah meninggalkan rumah untuk memulai kehidupan baru setelah kakek meninggal dunia.

Atas dasar patah hati yang entah mulainya darimana, seorang anak laki-laki yang harusnya mulai mengejar mimpi seperti orang--orang seusianya malah pergi bertualang untuk menyembuhkan rasa sakit yang diderita nya. “Indonsia, aku dataaang” teriakku dengan nada Zhafran di film 5 cm.

Ditemani hari gerimis, aku memulai perjalan dengan diantarkan seorang sahabat bernama yudistira menuju salah satu tempat menunggu bus, tidak naik dari pool, karena naik di jalan harganya jauh lebih murah, walau tak ada asuransi yang menjamin perjalanan.

Di sela waktu menunggu bus, ia bertanya tentang keyakinanku berjalan sendiri menyusuri penjuru negeri. “Kamu sudah benar-benar yakin, Dan?”

“Yakin dong” jawabku tegas.

Kendaraan hilir mudik di jalanan yang luas, hujan yang tadi gerimis menjelma lebat disertai angin kencang. Setelah menunggu kurang lebih dua puluh menit, sebuah bus berwarna biru dengan tulisan Sriwijaya melintas, kulambaikan tangan meminta supir untuk berhenti. Secepat kilat, tanpa bertanya ada kursi yang kosong atau tidak, tubuh ini sudah berada di dalam bus. Situasi cukup rumit, tak ada kursi kosong, sementara lorong tempat duduk sudah penuh oleh karung yang berisi hasil bumi. Belum lagi kondisi bis yang mengkhawatirkan, beberapa titik terdapat bocor. Alhasil aku harus menunggu beberapa saat sebelum akhirnya duduk di kursi darurat. Dalam hati aku bergumam “Tidak apa-apa, yang penting masih ada tempat duduk”

Hari sudah berganti malam, suasana bus sunyi, hanya suara musik yang diputar oleh pak supir agar tak mengantuk, bau cabai merebak ke seisi bus, terjawab sudah, ternyata karung yang ada di lorong tempat duduk berisi cabai merah yang hendak dijual ke luar kota. Dalam perjalanan diri ini termenung, menanyakan kembali apa tujuan perjalanan ini, menyembuhkan patah hati? mengenal indonesia lebih dekat? atau hanya sekadar mencari eksistensi diri? Rasanya semua akan terjawab setelah perjalanan ini selesai.

Bus berhenti pada satu rumah makan padang yang berada di daerah pendopo, kabupaten Empat Lawang.  Kupesan segelas kopi hitam dan pop mie rasa kari ayam untuk mengganjal perut yang mulai terasa lapar. Seberes menyantap makanan, kuhidupkan sebatang rokok filter sembari menyeduh kopi hitam pahit yang menyegarkan mata., Kubuka obrolan dengan seorang pria paruhbaya berambut putih, bercelana lepis dan kaos hitam dengan tulisan 

“Jangan mati sebelum ke Banda Neira”. 

“Kulihat-lihat, keren juga tulisan di baju bapak”

“Oh tentu iya, selain jejak historis nya, baju ini menjadi keren karena merupakan pemberian seorang kawan yang kutemui di kapal ferry saat menuju Makassar”

“Waah, artinya bapak sudah pernah ke banda neira ya?” sahutku dengan antusias.

“Sudah, beberapa tahun lalu aku mengunjunginya dalam ekspedisi kelana bentala”

“Kelana bentala adalah ekspedisiku bersama seorang kawan mengunjungi daerah-daerah di timur indonesia, Banda neira, Wae rebo, Flores hingga Raja Ampat di Papua”

Aku hanya memandang seraya bertepuk tangan, salut!

“Kau mau kemana, anak muda?”

“Saya akan melaksanakan perjalanan menyusuri Indonesia, Pak”

“Menarik, masih muda sudah mau keliling Indonesia. Kau namai apa perjalanan ini nak?”

“Belum ada Pak, bahkan untuk terpikirkan pun tidak”

“Saranku, kau beri nama perjalanan ini, agar kelak suatu hari mudah dikenang dan dikenal orang banyak, hati-hati di jalan”

Aku mengangguk, yang kemudian disambar oleh pekik suara kondektur bus, menghimbau para penumpang untuk segera naik ke dalam bus.

Bus kembali melaju, menembus gelapnya malam dan jalanan hutan pulau sumatera, di bangku belakang terdengar suara orang merintih ketakutan, kupikir ada apa. Ternyata setelah kulirik ada seorang perempuan muda yang tengah di ganggu oleh seorang kondektur. Modusnya berpura-pura tidur lalu merebahkan sebagian badanya ke badan perempuan muda itu. Teriakannya semakin keras yang disahut juga dengan suara seorang perempuan paruh baya yang tak lain adalah ibunya “Mas, jangan gitu, ini anak saya ketakutan”. Kondektur pura-pura terjaga, tapi tidak meminta maaf, hanya berpindah tempat duduk dengan tanpa bersalah.


Bersambung.........

Komentar

Postingan Populer