Perempuan Berwajah Teduh
Aku mengenalmu sejak lama. Tidak, karena tak punya cukup keberanian untuk menyapa.
Aku memberikan gelar “Perempuan Berwajah Teduh” saat belum tau persis dengan kata apa kamu dinamai. Begitulah cara praktis manusia memberi nama kepada sesuatu yang tidak diketahuinya: mereka menamakan sesuatu berdasarkan ciri fisik yang paling mudah diidentifikasi oleh indera. Cara yang sama digunakan oleh penemu Naphelium Lappacheum menamakan rambutan hanya karena ada rambutnya. “Perempuan Berwajah Teduh” adalah gambaran betapa wajahmu secara fisiologis lebih dominan dari bagian fisik yang lain. Jelas, karena Kamu menutupnya rapat-rapat.
Ini kebenaran objektif, bukan pujian. Wajahmu seperti puisi yang ditulis dengan sangat hati-hati oleh pengarangnya. Aku tidak punya analogi selain itu. Sulit untuk menyamakan Kamu dengan “Burung Merpati”, “Mutiara”, atau “Bunga Mawar”. Kata-kata itu terlalu sedikit untuk menjelaskan konsep yang Aku maksud. Bagiku, Kamu adalah deskripsi yang tidak dapat diselesaikan dengan 91.000 kata dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Aku butuh lebih banyak Kamus dari berbagai bahasa.
Cara bicaramu juga unik. Iya, Aku pernah mendengarnya suatu ketika. Suaramu dalam; terukur. Tidak terlalu tinggi, tetapi tidak sampai membuat orang berusaha lebih keras untuk menyimak hal yang sedang Kamu bicarakan. Kamu juga termasuk pendiam untuk ukuran perempuan cantik. Beberapa orang merasa kecantikan perlu dipertegas dengan banyak bicara. Kamu akan menemukan banyak manusia seperti ini di media sosial.
Aku juga suka caramu merias diri. Sederhana. Tidak terlalu berusaha keras mengikuti mode mainstream semu, yang membuat semua orang seragam seperti anak sekolahan. Anehnya, Kamu malah lebih cantik. Ini bukan pujian, sebab ini bukan berarti Kamu tanpa cela sedikit pun. Setiap manusia mutlak punya kekurangan, sebesar apapun kelebihan yang dimilikinya. Aku akan memberitahumu kapan-kapan, kalau Aku sudah menemukannya.
Aku mengenalmu sebatas itu, sebatas apa saja yang dapat diperoleh dengan penginderaan. Aku tidak terlalu serampangan untuk datang menemuimu begitu saja, menjulurkan tangan, memperkenalkan diri, kemudian memintamu melakukan hal yang sama dengan deskripsi sedetail mungkin. Apa lagu kesukaanmu, buku bagaimana yang sering Kamu baca, atau genre film mana yang sering Kamu tonton. Kita adalah dua orang yang sama sekali berbeda dalam banyak hal. Tidak punya ruang atau suatu perihal apapun yang dapat dijadikan alasan untuk saling mengenal.
Salah satu dari kita tidak perlu saling mengenal satu sama lain. Tetapi jika Kamu tau bagaimana sulitnya membuat keputusan berani untuk membuat tulisan ini, sampai bagaimana cara tulisan ini bisa berada di hadapanmu, Kamu pasti tahu, Aku bukan salah satu dari kita yang tidak perlu saling mengenal satu sama lain.
Dan pertanyaannya, siapakah perempuan yg dimaksud dalam narasi itu?
BalasHapusSemangat kakak, perjuangkan yg memang layak diperjuangkan, ganbatte.
BalasHapusKu suka sekali melihat penyair jatuh cinta, karena
BalasHapusperasaannya mereka tuangkan dalam bentuk cerita🦾
Beruntungnya perempuan itu, yang bisa diceritakan melalui kata dan kalimat yang indah penuh makna.
BalasHapusSepertinya aku tau perempuan berwajah teduh ini 😌
BalasHapusBegitulah cara semesta bekerja.
HapusManusia memang lebih senang menerka-nerka.