Kelana Bentala #2 (Lampung)
Kalau bukan karena ketentraman perjalanan, sudah kupecahkan bibirnya dengan genggaman tinju yang sudah kutahan sedari tadi “ucapku dalam hati”
Waktu menunjukkan pukul empat subuh, bus berhenti pada satu tempat persinggahan, mirip dengan warung remang-remang khas pinggir jalan. Katanya sang supir mengantuk sementara tak ada supir cadangan, jadilah kami berhenti menunggu sang supir merebahkan lelah sejenak. Kembali kupesan kopi hitam yang diantarkan oleh seorang perempuan yang kira-kira usianya baru masuk angka dua puluh, pakaiannya tak lazim digunakan di waktu malam, amat terbuka. Tapi tak kuhiraukan, hanya fokus pada kopi hitam yang mengeluarkan hawa panas.
Di seberang sana kulihat sepasang muda-muda tengah memadu kasih di situasi yang remang, di dekatku dua orang laki-laki tua sedang fokus memainkan catur sembari berbicara tentang politik negeri ini. Entah mengapa bahasan tentang politik seolah menjadi hal menarik bagi orang-orang seusia mereka.
“Kalau saja freeport itu kita yang mengelola, tentu sejahtera lah seluruh rakyat Indonesia”.
“Walah, ndak bisa seperti itu Bung. Kita itu sudah terikat janji dengan Amerika hingga tahun 2040 nanti, lagian kalau kita yang mengelola, memangnya kita sanggup ? Lah wong penjajah karo pribumi kelakuane podo wae”.
“Kamu terlalu pesimis, Bung. Masih ada anak-anak pribumi yang mampu dan bisa mengelola freeport dengan baik, kita belum kasih kesempatan saja”
“Ya tetap saja ndak bisa Bung, kita udah disandera sama Amerika, jauh berpuluh-puluh tahun yang lalu”
“Kenapa ya dulu kita mau menyerahkan Gunung emas ini pada mereka, padahal kan Bung Karno paling anti sama Amerika”
“Kamu bener-bener gatau, atau hanya menguji pengetahuanku, Bung?”
“Maksudmu apa?”
“Bukan Bung Karno pelaku nya, coba kamu cek kembali sejarah”
“Hmm, jangan-jangan ini ada hubungan nya dengan peristiwa lengsernya Bung Karno ya ?”
Baru saja lelaki satunya hendak menjawab, pekik suara sang kondektur kembali terdengar memanggil para penumpang.
12345678
Matahari tepat berada di atas kepala saat bus berwarna biru yang kaca nya sudah banyak ditempeli lakban itu tiba di salah satu terminal terbesar di Sumatera, Rajabasa. Keringat bercucuran membasahi tubuh yang rasanya gerah sekali karena belum mandi sedari kemarin. Kuambil tas ransel ukuran 60 liter yang ditaruh di atas bus, kondisinya basah kuyub karena pagi tadi bumi sempat diguyur hujan, “Dasar, bus butut”. Untung aku sudah mensiasati keadaan dengan menaruh wadah plastik di dalam ransel.
Setelahnya aku lanjut berjalan, beberapa ratus meter seorang kawan melambaikan tangan.
“Bang, siniii’ panggil Ilham, beliau adalah adik tingkatku yang kutemui saat berlangsungnya Musyawarah Wilayah Sumatera Ikatan Mahasiswa Pendidikan Ekonomi Seluruh Indonesia di Universitas Lampung, setelah pulang ke kota masing-masing, sesama kami tetap menjalin keakraban dan komunikasi satu sama lain.
“Halo Ham, gimana kabarnya?” Kusapa beliau sembari memeluk tanda persahabatan
“Puji Tuhan kabar baik bang, kalau dipikir-pikir sudah lama kita ga ketemu”
“Syukurlah Ham, Alhamdulillah hari ini kita masih bisa bertemu”
Motor matic berwarna putih melaju menembus kemacetan di jalanan kota Bandar Lampung, dibawanya aku menuju salah satu kos-kosan untuk bersih-bersih. “Ayook bang, habis ini kita lanjut makan ya, teman yang lain sudah menunggu”
Sedari awal aku sudah merencanakan perjalanan ini bukan hanya perjalanan tentang Indonesia, tapi juga tentang menemui teman-teman lama, kenapa? Untuk orang-orang melankolis sepertiku, bertemu dengan teman-teman lama adalah bahan bakar semangat yang membuat hati ini hangat, bernostalgia, mengobrol hal-hal seru di masa lalu. Beberapa dari mereka bahkan sudah membooking sejak jauh-jauh hari “Uda, kalau nanti ga mampir, awas ya”. “Mas, nek kowe ora dolan karo aku, aku nesu pokok e”. “Daeeeeng, teman-teman Makassar sudah menunggu, diinfokan nanti ya”.
Walaupun perjalanan ini tidak sekeras para backpacker yang menumpang dari satu angkutan ke angkutan lain, tetapi perjalanan ini tetap punya tantangan sendiri, terutama soal menginap dan akses transportasi, soal menginap, aku akan menumpang di rumah-rumah teman, atau kalau tidak pun, aku sudah berencana untuk menginap di sekretariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yang berada hampir di tiap daerah, soal transportasi agaknya tidak begitu sulit, aku sudah menyiapkan budget untuk itu, walau pas-pasan. Sementara soal logistik, ini yang penting. Makan minimal dua hari sekali adalah hal wajib yang tak boleh ditawar-tawar, kalau bahasa keren nya “Logika tanpa logistik, mustahil” “Narasi tanpa nutrisi, omong kosong”. Perut kenyang adalah bahan bakar utama dalam melakukan perjalanan.
Aku dan Ilham tiba di keramaian cafe di Bandar Lampung, disambut dengan senyum sumringah, Dama, Indah dan Aji sudah menunggu disana. Kami mengobrol banyak soal kenangan-kenangan masa lalu dan realitas masa kini. “Sekarang adek-adek sudah susah, bang. Makin hari hegemoni nya makin redup”
“Benar, harusnya tahun ini ada kegiatan Musyawarah Nasional di Solo, tapi sampai hari ini tak ada kabar berita” Sahut Indah menyambung ucapan Aji. Dua orang yang kelak kutahu adalah sepasang kekasih.
Aku hanya melempar senyum, menjawab seadanya, karena apa yang mereka sampaikan benar terjadi, bukan hanya di organisasi kami saja, tapi juga dengan organisasi lainnya. Covid-19 benar-benar merubah keadaan, sekolah daring, kuliah daring benar-benar membuat orang merasa berjarak satu sama lain, tak ada ikatan emosional yang terbentuk.
Obrolan nostalgia itu berlangsung hingga berjam-jam, kopi, cemilan kentang goreng dan pisang bakar yang tadinya berada di atas meja lenyap tak bersisa, sementara mentari mulai turun kembali ke peraduan, memancarkan sinar surya yang membuat bumi menjadi cantik.
“Setengah jam lagi bus terakhir menuju pelabuhan bakauheni akan jalan, aku pamit berangkat dulu ya ges, terima kasih banyak jamuan dan obrolan hangatnya”
“Hati-hati di jalan ya Bang, semoga perjalanan menyusuri Indonesia nya penuh suka dan banyak bahagia”
Sepeda motor tua yang kupesan dari aplikasi hijau datang menghampiri, berjalan menyusuri sore yang ramai di Bandar Lampung, hingga pada akhirnya sampai kembali di terminal Rajabasa. Pekik kernet bis terdengar dari kejauhan “Bakauheni, Bakauheni, Bakauheni !”.
Sejurus kemudian aku sudah masuk ke dalam bus, melanjutkan perjalanan ke pelabuhan bakauheni. Sebagaimana orang bingung pada umumnya, aku berinisiatif bertanya pada anak muda yang tengah menghisap rokok kretek. “Mas. Kalau mau pesan tiket dimana ya?”
“Disana, Mas. Ongkosnya 23.000 untuk satu kali penyebrangan, kalau sampeyan belum ada kartu, bisa beli dulu kartunya ke loket sebelahnya”
Dering suara teleponmemecah obrolan, kuraih handphone yang berada di saku depan, tertulis di layar "Amma Memanggil"
Bersambunhg..................
Komentar
Posting Komentar